Pelatihan Audiografi di UMKM Kopi Puntang Wangi untuk meningkatkan kualitas promosi

Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan kegiatan pada tanggal 06 April 2021. Kegiatan ini dilaksanakan dengan memberikan pelatihan bagi para pengelola UMKM Kopi Puntang Wangi yang berada di bawah Lembaga Masyarakat Daerah Hutan Bukit Amanah. Pelaku tersebut merupakan bagian dari kelompok koperasi di bawah binaan Pertamina dan Dinas Pertanian Pemerintah Kabupaten Bandung. Masalah utama yang mereka hadapi yaitu kurangnya pengetahuan serta koneksi jaringan internet untuk mempublikasikan produk yang mereka olah, dan tentunya belum adanya pelatihan mengenai konten pemasaran pada media video. Tim Abdimas yang terdiri dari Ardy Aprilian Anwar sebagai ketua dan Anggar Erdhina Adi serta Muhammad Iskandar sebagai anggota, fokus pada teknik pengolahan audio, khususnya pada kombinasi antara musik dengan suara narator. Diperlukan keahlian khusus untuk membuat kedua bunyi tersebut terdengar selaras, harmonis, dan tidak saling bertabrakan. Tujuan diadakan pelatihan ini adalah agar konten-konten yang selama ini mereka buat menjadi konten yang memiliki kualitas audio yang lebih baik. Konten sosial media dengan bobot informasi yang baik ditambah dengan kualitas audio yang mendukung akan meningkatkan ketertarikan “konsumen”-nya dalam memperoleh dan menyerap informasi. Dengan ketertarikan tersebut, diharapkan dapat meningkatkan kualitas promosi produk Kopi Puntang Wangi.

Desa Cimaung terletak di Kabupaten Bandung wilayah Selatan 40374, Jawa Barat. Kawasan tersebut menjadi desa wisata agrikultur sejak abad 20 setelah pada satu abad 19 dikelola oleh colonial Belanda menjadi lahan agribisnis. Lokasi masyarakat sasar terletak di Desa Campakamulya, Kecamatan Cimaung, antara kota Bandung (sebelah Utara), Pantai Selatan (Selatan), Ciwidey (Barat), dan Gunung Guntur (Timur). Letaknya persis di Gunung Puntang, tempat puing-puing bangunan bersejarah berada, yaitu Stasiun Radio Malabar.

Masyarakat di sekitar gunung Puntang memiliki tingkat ekonomi menengah ke bawah. Sebagian besar kepala keluarga bermatapencaharian sebagai petani. Kawasan ini memiliki potensi agrikultur sejak zaman kolonialisme. Namun menurut Abah Onil (ketua LMDH Bukit Amanah) pada pertemuan dengan Dinas Kemitraan (23 April 2021), paradigma berpikir masyarakat tentang pentingnya Pendidikan masih rendah, sehingga saat ini, rata-rata Pendidikan tertinggi yang dicapai adalah SMP. Hal tersebut membuat kualitas SDM tidak tidak siap kerja dan hanya mengandalkan penghasilan dari penjualan hasil alam. Tempat diadakan pelatihan sudah mendapat akses listrik, namun minim sinyal handphone sehingga persiapan software dilakukan sebelum berangkat ke tempat pelatihan. Hingga saat tim abdimas melaksanakan pelatihan, UMKM Kopi Puntang Wangi sudah bermitra dengan Pertamina dan Dinas Pertanian Kabupaten Bandung. Mereka sudah memfasilitasi kelompok masyarakat UMKM dengan peralatan pengolahan kopi, agar lebih mandiri dan tidak mengandalkan pihak pengolah.

Masalah yang mereka alami hingga saat ini adalah akses internet yang dapat digunakan untuk melebarkan sayap dari segi produk kopi, maupun produk wisata. Tim abdimas melihat banyak sekali peluang dan potensi pemberdayaan masyarakat. Menurut Pa Aa, sebagai koordinator UMKM, mereka telah mendapatkan pelatihan pengolahan budidaya kopi hingga menyeduhnya dalam gelas. Namun hal tersebut akan lebih bermanfaat jika mereka mampu melakukan penjualan tidak hanya ketika ada wisatawan berkunjung. Setelah merumuskan dan diskusi, tim abdimas memutuskan untuk memberi pelatihan yang relevan dengan latar keilmuan Desain Komunikasi Visual, yaitu pelatihan fotografi, videografi, dan audiografi. Setelah pengetahuan-pengetahuan dan teknis pengerjaan pada multimedia audio visual, mereka akan memiliki konten untuk dipasang pada akun-akun digital pemasaran produk ataupun jasa wisata.

Solusi yang akan ditawarkan berupa pemberian informasi dan pengetahuan tentang musik terapan dalam konteks videografi dalam bentuk pelatihan singkat. Pelatihan tersebut menggunakan peralatan-peralatan dalam bentuk software sebagai perangkat utama yang mereka gunakan juga untuk mengolah data mentah video, serta dalam bentuk hardware berupa mikrofon clip on untuk merekam narasi. Pelatihan yang diselenggarakan bertujuan untuk memberikan pemahaman-pemahaman dasar tentang pengolahan audio (dialog, musik, dan sound effects) dalam pengkaryaan yang mereka olah dan nantinya digunakan untuk promosi produk dan wisata. Hasil dari pelatihan berupa video desain sendiri dengan etika penulisan credit title Ketika menggunakan musik dari outsource. Hal tersebut berkaitan dengan pemahaman tentang mood yang terkandung dari musik agar walaupun mereka menggunakan outsource tapi tidak terkesan asal “musik kekinian”, “keren”, dan “canggih”. Hal ini dilakukan dalam upaya menghindari mereka dari hal-hal yang bersifat hukum hak cipta hingga tuntutan dari yang bersangkutan (pemilik audio/musik).

Kegiatan pengabdian dimulai dengan pemaparan terlebih dahulu, lalu diakhiri dengan workshop agar apa yang disampaikan dapat dipraktikkan saat itu juga. Hasil dari pelaksanaan pengabdian menjadi tolak ukur apakah pengabdian dapat dilanjutkan ke tahap pengabdian berikutnya atau tidak. Mitra diundang dalam pengabdian ini melalui komunikasi verbal. Masyarakat sasar yang datang mencapai 16 orang. Masyarakat mitra hanya menggunakan 1 buah komputer hibah yang tersedia di tempat pelatihan. Mereka akan diberikan pengetahuan secara lisan. Peran serta para anggota komunitas Lensa Pangalengan cukup antusias. Hal tersebut dapat dilihat ketika workshop, dimana tim memberikan waktu kepada mereka untuk secara bebas mengambil gambar berupa stock shoot di area sekitar pelatihan. Setelah itu, mereka memasukan data video untuk kemudian diberi arahan editing audio visual perkelompok secara bergiliran. Berikut ini beberapa lampiran pelaporan selama kegiatan berlangsung.

Ketua LMDH, Deni Sopian Dimyati beserta jajarannya menyampaikan bahwa jenis pengabdian seperti ini sudah beberapa kali dilakukan oleh pihak-pihak tertentu. Namun sayangnya, kegiatan tersebut hanya berjalan saat itu saja. Sedangkan pengarahan dan bimbingan setelahnya tidak ada. Dari penyampaian tersebut, mereka mengharapkan kami melakukan pembinaan dan pendampingan intens kepada peserta-peserta yang mendapat pelatihan. Namun kami tidak memberikan janji, karena berbenturan dengan Tri Dharma lain seperti pengajaran dan penelitian, serta anggaran.

Program lanjutan yang sudah didiskusikan dengan masyarakat sasar adalah pembuatan konten promosi berupa video yang menceritakan perjalanan kopi dari penanaman hingga penyeduhan. Selain itu, kami berdampingan dengan tim yang memberikan pelatihan di bidang fotografi produk yang bertujuan sama, yaitu konten promosi produk. Dan ditambahkan dengan pelatihan fotografi untuk dokumentasi. Karena kebetulan pada periode berikutnya bertepatan dengan masa panen raya kopi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *